Bisikan

Ibunya lantas duduk dengan ketabahan berlipat-lipat, mendekat ke telinga anaknya yang telah terbujur kaku direnggut ajal, seraya berbisik, “Para pejuang bekerja di kesunyian, sibuk menyalurkan ketangguhan, telaten membangkitkan kesadaran untuk mengolah ikhtiar menjadi kemuliaan yang menjalar luas, hingga tak sempat mengunggul-unggulkan dirinya. Sementara para pengecut tekun membangun kepalsuan demi menjulangkan kehebatan dirinya, giat mengumbar jasa-jasa di gegap-gempita pesta seraya memunguti decak kagum dari kerumunan boneka yang takut membantah demi keamanan perut maupun citranya. Keduanya bakal meninggal, lalu diliangkan pada bumi yang sama. Namun hanya satu yang tetap hidup meski jasadnya purnatugas, menghuni sanubari para pelayatnya sebagai cahaya, hinggap pada lantunan doa-doa luhur menggetarkan yang terus berdengung hingga masa yang panjang”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s