Radikal

Kisaran tahun 1802, kata “radical” mulai marak digunakan dalam ujaran bahasa Inggris dan diartikan sebagai “reformis”. 15 tahun kemudian, Partai Liberal Inggris resmi memakai istilah tersebut sebagai pernyifatan atas garis politiknya. Di bidang lain, tahun 1816, para ilmuwan juga memungutnya untuk diterapkan dalam kajian Kimia. Namun jauh sebelum masa itu, sekitar akhir abad 14, “Radical” sudah masuk dalam perbendaharaan kata bahasa Latin, ditulis dengan “Radicalis”. Sebuah lema filosofis yang berasal dari “Radix”, artinya “akar, asal-muasal, tulen”. Konotasinya selalu positif. Demikian pula saat Bahasa Indonesia menyerapnya. KBBI membubuhi arti: radikal/ra·di·kal/: secara mendasar; sampai kepada hal yang prinsip; Amat keras menuntut perubahan (politik); maju dalam berpikir atau bertindak.

Kini radikal dimaknai berbeda, disertai aroma yang kerap negatif. Apa yang terjadi? Tentu saja, kesalahan bukan pada kata atau bahasanya, melainkan cara orang memperlakukan kata itu sendiri. Semakin banyak yang abai, asal comot dan malas memahami. Bahkan untuk hal-hal yang akrab melintasi benak mereka, yaitu kata-kata. Konyol? Begitulah! Tapi, bagaimana lagi? Anggaplah ini resiko atas wolak-waliking zaman. Semacam bagian dari evolusi: perubahan perilaku manusia dalam merawat lidah dan pikirannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s