Bug

Dua macam “bug” dalam diri manusia yang sering disasar para mastermind saat bikin drama politik pendulang simpati adalah “rasa kasihan” dan “harapan”. Bila keduanya sudah terkelabui, maka tinggal diarahkan keberpihakannya. Tentu saja rekayasa dilancarkan melalui rangkaian narasi ampuh. Cerita-cerita heroik, tentang manusia atau sekelompok orang yang berhasil bangkit dari penderitaan ironis menuju kemenangan gemilang, setelah bekerja keras tak putus harapan. Perjuangan yang diceritakan untuk menarik perasaan orang lain, mengaduk-aduk emosi mereka, hingga orang-orang itu bersimpati penuh pada tokoh utama cerita. Itu kenapa tokoh-tokoh tertentu kerap diperankan sebagai “korban” dari lawan yang dikesankan kejam.  Si tokoh dipoles sedemikian rupa agar tampak sebagai makhluk paling menderita di muka bumi. Tujuannya, supaya orang mengasihaninya. Kalau sudah kasihan, tinggal ditunggangi sambil diiming-imingi harapan akan kemerdekaan yang membahagiakan. Memang klise. Tapi demikianlah yang disukai sebagian besar orang. Teknik yang telah diterapkan sejak berabad-abad silam namun tetap mujarab hingga sekarang. Dibalik jubah demokrasi, cara itu kian sering dimainkan dengan berbagai kamuflasenya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s