Idola

Awalnya, kaum pagan yang berbahasa Yunani, memanggil dewa-dewa mereka dengan sebutan “Eidos”. Artinya, “perlambang, perwakilan”. Seiring waktu, julukan itu berkembang menjadi “Eidolon” yang bermaksud, gambaran mental atau perwujudan batin dari kekuatan agung yang menjadi sesembahan. Bahasa Latin lalu menyerap dan menuliskannya dengan “Idolum”, bermakna perwujudan mental serta fisik dari makhluk misterius penghuni alam khayal. Sebagian juga mengartikannya sebagai hantu atau siluman.

Sebelum masuk khazanah Bahasa Inggris dan dieja “Idol” pada abad ke-13, kata tersebut mampir dulu ke masyarakat Perancis Kuno di abad 11 dalam lafal “Idole”. Pengartiannya mulai mengerucut pada berhala, arca atau patung sesembahan. Konotasinya jatuh negatif saat kaum monotheis membubuhkan arti “tuhan palsu”, sebab tak setuju dengan pelestarian sisa-sisa kepercayaan pagan di beberapa wilayah Eropa. Pemahaman ini menyebar. Arti Idol meluas menjadi, orang yang serba palsu dan tidak bisa dipercaya atau orang yang sesat iman.

Baru pada rentang 1590-an, muncul pemaknaan anyar seiring kedatangan era materialisme. Lahirlah Idol versi modern dengan aroma mistik yang sengaja dipangkas. Idol means a person so adored, human object of adoring devotion. Oleh Bahasa Indonesia, Idol diserap menjadi Idola. Dan KBBI mencantumkan arti: orang, gambar, patung dan sebagainya yang menjadi pujaan.

Tidak ada lagi nuansa “sesembahan” dalam pengartiannya. Meski saat dipraktikkan, seorang idola kerapkali dipuja secara berlebihan, nyaris seperti sesembahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s