Sekolah

Semula disebut murid, dari bahasa Arab, yang arti bebasnya adalah “pengupaya yang tekun, penggali potensi diri”. Seiring itu digunakan pula siswa, berasal dari zisya, bahasa Sanskrit, yang makna luwesnya, “orang yang diajari atau diberi petunjuk”. Kedua penamaan itu terasa anggun dan bermartabat. Namun kini berganti menjadi “peserta didik”. Tidak ada lagi kedalaman makna, berjarak, kering dan kental nuansa komersial. Barangkali, sekolah sudah mirip pabrik dan anak-anak itu disiapkan layaknya barang jualan di pasar kerja. 

Tapi, jangan-jangan begitulah kelumrahan sistem pendidikan formal masa ini. Serba dagang. Pengelolanya tak sungkan lagi untuk pasang baliho dan spanduk penerimaan “peserta didik” baru, dengan tatanan kalimat persis iklan perusahaan mencari karyawan. Mereka tak segan menawarkan fasilitas-fasilitas layanan dan akreditasi, bak iming-iming bonus pendapatan pada calon pekerja. Tak ada nilai kemanusiaan apapun yang dikemukakan disana, selain urusan laba dan niaga. Para orang tua dianggap sekadar konsumen, yang mesti dibujuk agar menitipkan putra-putrinya, untuk dipoles menjadi mesin tercanggih yang mampu memproduksi prestasi-prestasi versi mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s