Nak

Nak, kelak kau akan mengingat masa kecil dan kampung halamanmu, sebagai jejak gelak tawa pada pagi basah yang ngantuk, beriring suara takbir. Di surau kecil, yang senyap pada hari lain, akan kau ingat geliat itu. Orang-orang tua yang tidak direkam sejarah, setia dengan puji-pujian untuk Tuhan. Suara serak mereka, merasuk dalam telingamu dan bersemayam bertahun-tahun. Menjadi pengusik saat kau lupa, tentang arti pengabdian. Mereka itulah orang-orang yang meraih kemenangan sesungguhnya, Nak. Keyakinan mereka tak runtuh ditikam musim, tetap kokoh di arus zaman. Mereka bersetia dengan nilai-nilai yang diyakini, meski asing dan sunyi. Tapi, perlu kau tahu, kesucian martabat tetap terjaga. Kemenangan sejati itu, saat kau siap untuk tidak menjadi apapun, tidak ingin dianggap penting, saat banyak orang berlomba-lomba untuk menjadi penting dengan serakah kepentingan.

Nak, hidup bukan soal kalah dan menang sebagaimana ayam-ayam yang disabung. Kita memang bertanding, tapi bukan untuk merendahkan liyan. Dalam bahasa kakekmu, menang tanpo ngasorake. Sebab, yang harus kau taklukkan sepanjang usia adalah hasrat burukmu. Jadilah pawang untuk dirimu sendiri. Nak, hidup yang riuh rendah ini, hanya bisa kau lalui dengan sempurna lewat hening, eling dan waspada. Sebagaimana pagi ini, saat kau terjaga, lantas bersiap menyambut awal syawal yang berembun.

Suatu saat, kau akan mengingat ini bersamaan: kampung halamanmu yang jauh dan masa kecilmu yang sederhana, di hari raya yang bersahaja.

Advertisements

Kepepet

Hujan yang turun sebelum petang, kerap memunculkan momok di jalanan Jakarta. Seperti beberapa hari yang lalu. Kemacetan mengular panjang di ruas-ruas utama, berlangsung berjam-jam dengan ketidakpastian masa terurai. Tapi ini bukan peristiwa baru. Bahkan sudah cenderung lumrah. Sedemikian sering terjadi, sehingga tubuh sebagian besar warga lekas menyesuaikan diri. Terutama dalam soal menahan kencing. Tak perlu pakai jampi-jampi atau lelaku kadigdayan segala rupa, mereka sudah menguasai kemampuan itu. Asalkan masih ada data internet di gawai yang bisa disedot, rasa kebelet kencing akibat kemacetan sebrengsek apapun bisa dikelabui.

Kurang tabah apa? Kurang sakti bagaimana? Bertubi-tubi terlontar pada keadaan kepepet telah membuat daya tahan manusia terlatih tangguh. Dan, bukankah demikian kelaziman hidup itu? Lepas dari satu keterjepitan untuk masuk dalam keterhimpitan yang lain. Masa jeda di antaranya, disebut kebahagiaan. Waktu untuk menghela napas, istirahat sejenak, sebelum kembali bergelut dengan kepelikan berikutnya. Hasil yang paling berbekas hanyalah ketangguhan. Sedangkan selebihnya akan berangsur amblas.

Lalu, ibarat pengalaman pada kemacetan itu, orang hanya bisa menyiasati keadaan supaya tidak hancur. Meskipun tahu, peristiwa semacam itu serupa putaran yang niscaya dilalui kembali. Cepat atau lambat, sekarang atau nanti. Anggaplah ini ketetapan alamiah. Pilihan yang tersedia adalah labrak hingga pungkasan. Sebab menyerah sekalipun tetap berbuntut risiko. Konon begitu.

Pengingat

Di beberapa tempat yang saya lewati pagi ini, lagu-lagu era 80-an masih diperdengarkan. Entah, apa saja judulnya. Saya hanya mengenali lewat iramanya yang serba mendayu, dengan syair-syair nelangsa. Sebutan sinisnya, cengeng. Padahal, lantunan semacam itu bertolak belakang dengan hawa pagi Jakarta yang sedang berderap optimistik, sebelum matahari menggarang siang nanti. Namun, jangan-jangan para penggemar lagu-lagu itu justru menganggap sebaliknya. Mereka butuh semacam kesadaran akan penderitaan, gambaran tentang kesedihan maupun kenangan buruk untuk memahami makna bahagia. Lagu-lagu itu lantas dijadikan pengingat yang melecut kewaspadaan. Berlaku layaknya alarm, sehingga mereka bersemangat dalam mengais nafkah. Siapa tahu? Masing-masing orang punya cara sendiri untuk menguatkan dirinya demi bertahan hidup.

Dangdut

Dangdut nyaris selalu menyuguhkan kesan yang jungkir balik. Iramanya mendayu, liriknya bercerita soal kesedihan serta ironi-ironi lain, bahkan kerapkali mengisahkan kesengsaraan dengan berlebihan, namun cara menikmatinya justru dengan bergoyang. Weh! Paradoks!

Tapi suka atau tidak, hingga kini,  jenis musik inilah yang relatif banyak meraup telinga dibanding jenis lain. Penikmatnya meruyak sampai ke pelosok negeri. Tak ubahnya, dangdut telah merasuk ke dalam pori-pori masyarakat, hingga memengaruhi sikap mereka dalam menjalani hidup. Seakan-akan siratan pesan dari dangdut sudah menyatu dengan keseharian, yakni, “Seberat apapun penderitaan, serunyam apapun gambaran masa depan Indonesia, sesengit apapun perdebatan konyol di media sosial, sempatkan untuk bergoyang dan mrenges bahagia, entah jujur atawa pura-pura”.

Hegemoni

Era ideologi sudah amblas bersama keruntuhan tembok Berlin 28 tahun silam. Kekuasaan lantas ditentukan pergerakan kekuatan modal untuk penguasaan sumber daya alam dan pengendalian manusia lewat aturan pasar. Bahkan, kini sudah tidak melulu negara yang mampu melakukannya. Bersenjatakan Artificial Intellegence, sebuah komunitas atawa korporasi mampu lebih dahsyat mencaplok apapun. Menjalankan pola hegemoni baru, untuk meraup hal-hal yang lebih berharga ketimbang matauang, emas, gas alam atau minyak bumi, yakni pikiran dan perasaan. Keberhasilan siasat penaklukkan modern, ditandai oleh kesuksesan mengelabui dua hal itu. Jika keduanya terenggut, hal-hal selebihnya tinggal diangkut.

Anggaplah ini fiksi. Kendati kenyataan tentangnya berlangsung kentara. Kita mengalaminya, hanya saja berbeda mendefinisikannya. Faktor keragaman bahasa, kadar dan mutu referensi, serta kematangan menelaah informasi, menimbulkan perbedaan itu. Hingga ada sejumlah orang yang benar-benar tidak bisa mengenali kehadirannya, meski lebih dari separuh harinya bersentuhan dengan belaian hegemoni baru tersebut. Lalu mereka menganggap, zaman tengah mandeg di masa sebelum tembok Berlin ambruk, ketika ideologi masih dipeluk masyuk.

Merdeka

Kata-kata memang tak berfungsi apa-apa tanpa manusia. Namun, tanpa kata-kata, manusia bakal sulit mendefinisikan diri serta keadaannya. Dan orang-orang di tengah dekade 1940 itu, paham betul arti merdeka, sehingga mereka menggunakan kata itu untuk memekikkan harapan yang didambakan. Ya, kata “Merdeka”, “Mardiko”. Bukan dengan yang lain, misal, “Bebas”,  “Mandiri”, “Lepas” atawa “Independen”. Atau dengan istilah apapin yang serupa dan lazim di zaman itu. Terasa benar mereka tak mau sembarang cetus. Pertimbangan atas bobot nilai, kekuatan rasa serta cakrawala makna kata tersebut, terkesan telah mereka masak dengan sungguh-sungguh, agar tak keliru niat dan salah ekspresi.

Lalu, bagaimana dengan hari ini? Apakah orang-orang masih paham rinci-rinci alasan melengkingkannya

Ilusi

Beranjaklah! Di luar sana, kehidupan sungguh berbeda. Kenalilah manusia-manusia, pahami persoalan sosial beserta kompleksitas dimensinya. Terjun ke dalamnya, bukan sekadar percaya pada desas-desus searah di media sosial internet, hasil olahan kode-kode alogaritma dan pelintiran para pengeruk laba yang culas! Lagipula, kau bukan robot atau mesin biner yang hanya mampu bertindak berdasar logika hitam-putih belaka. Bagaimana bisa yakin pada seliweran kabar, namun kau menampik kisah di sebalik layarnya? Bagaimana bisa yakin dengan sangkaanmu, padahal yang kau mengerti hanya secuil perkara? Meski kau berkilah, “Aku memiliki kelengkapan argumentasinya, aku punya catatan-catatannya”, tapi itu saja tidak cukup. Bongkahan data tak akan menjadi apa-apa tanpa sudut pandang yang solid serta jernih. Statistik akan tumpul dan tampil dungu jika tidak diolah dengan pikiran serta hati yang mencakrawala. Jangan sia-siakan perangkat-perangkat kemanusiaanmu.

Kecuali, kau sudah memutuskan untuk menikmati hidup dalam tahayul-tahayul dunia maya dan tak mau terganggu dengan keasyikan ilusimu.