Buas

Kemudian dia bilang, “Mereka terus menggunjingkan kekonyolan pendapat orang-orang tolol itu, hingga membuatnya tenar. Ya, mereka memang tidak butuh perbincangan untuk mencari kebenaran, melainkan lebih menyukai mencaci-maki kebodohan orang lain. Bukankah itu mengasyikkan?” Dia diam sejenak. Sekian detik berikutnya, kembali bersuara, “Setelah rimba-rimba dihabisi, kini hukumnya berpindah tempat. Singa-singa liar memang telah terkurung di kebun binatang, namun kebuasannya menitis ke manusia”.

Advertisements

Bisikan

Ibunya lantas duduk dengan ketabahan berlipat-lipat, mendekat ke telinga anaknya yang telah terbujur kaku direnggut ajal, seraya berbisik, “Para pejuang bekerja di kesunyian, sibuk menyalurkan ketangguhan, telaten membangkitkan kesadaran untuk mengolah ikhtiar menjadi kemuliaan yang menjalar luas, hingga tak sempat mengunggul-unggulkan dirinya. Sementara para pengecut tekun membangun kepalsuan demi menjulangkan kehebatan dirinya, giat mengumbar jasa-jasa di gegap-gempita pesta seraya memunguti decak kagum dari kerumunan boneka yang takut membantah demi keamanan perut maupun citranya. Keduanya bakal meninggal, lalu diliangkan pada bumi yang sama. Namun hanya satu yang tetap hidup meski jasadnya purnatugas, menghuni sanubari para pelayatnya sebagai cahaya, hinggap pada lantunan doa-doa luhur menggetarkan yang terus berdengung hingga masa yang panjang”

Menyelamatkan

Gadis kecil itu terus berlari ke arah luar kawasan kebun binatang. Sedu sedannya bersatu dengan dengus napas yang menderu tak teratur. Di belakang, bapaknya kewalahan menyusul sambil sesekali memanggil. Puluhan mata pengunjung lain memperhatikan peristiwa kejar-mengejar itu dengan terheran-heran. Beberapa diantara mereka saling bergumam, mungkin menggunjingkan musabab kejadian. Selepas gerbang terdepan Gadis kecil berhenti. Ia berbalik dan menyongsong bapaknya yang gontai kepayahan. Mereka lantas berpelukan.

“Aku tidak sampai hati melihat mereka, Pak” Keluh Gadis kecil itu lirih.
“Bapak tahu, Nak. Bapak tahu…” Bisik sang bapak sembari melepas rengkuhan agar bersehadap, seraya mengusap lelehan air mata di pipi anaknya itu, setelah isakannya berhenti. “Maafkan bapak, ya. Besok lagi kita tidak perlu piknik ke sini”. Si Gadis mengangguk. Lalu keduanya bergandengan menuju kendaraan di lapangan parkir.

“Kenapa hewan-hewan itu dikumpulkan di sana, Pak? Bukankah rumah mereka di hutan?” Pertanyaan si Gadis disambut oleh senyum bapaknya.
“Kita harus melindungi mereka dari kepunahan. Merawat alam. Seperti tulisan itu…” Ayahnya menunjuk ke sebuah spanduk “Selamatkan Bumi”, yang membentang pada salah satu penjuru. Bibir Gadis kecil bergerak-gerak membaca tulisan yang dimaksud. “Lagipula hutan-hutan tempat mereka bersarang telah ditebangi, berganti hunian serta ladang-ladang”.

Namun rasa keingintahuan anak itu belum tuntas. “Jadi, kalau hutannya tak ditebangi manusia, hewan-hewan itu akan baik-baik saja?”
“Tentu, Nak. Mereka pun tidak akan menghuni kebun binatang sebab masih memiliki rumah”.
“Dan setelah tidak punya rumah lagi, kini mereka dikurung di kebun binatang. Supaya bisa menjadi tempat piknik manusia? Tega sekali, Pak!”. Tiba-tiba Gadis kecil menghentikan langkah. “Berarti, kita harus menyelematkan bumi dari siapa? Manusia? Dari kerusakan yang kita buat sendiri?”.

Ayahnya terpana. Ia jongkok dan menatap sorot bening putrinya. Deretan kata-kata yang berkelebatan di benaknya, tak sanggup diutarakan. Ia bingung, harus menggunakan susunan kalimat yang bagaimana untuk menjawab pertanyaan bocah berusia 10 tahun itu. Akhirnya ia memilih cara terpintas, sekadar meredam gejolak penasaran anak gadisnya. “Nak, kita harus segera ke mobil”, ajaknya lembut.

Sidang

Riuh rendah hadirin yang mencemooh pernyataan terdakwa berangsur-angsur reda setelah hakim memberi peringatan dengan mengetukkan palunya berkali-kali, “Tenang! Mohon tenang!”. Tapi himbauan itu tidak digubris dua lelaki berpakaian perlente di baris tengah pengunjung sidang. Mereka menolak duduk, tetap berdiri dengan rona penuh kesumat. Gumam kegeraman sayup-sayup keluar dari mulut mereka. “Kucing kurap! Seharusnya mulutnya disumpal serbet supaya tak banyak omong”, maki salah satunya. “Ndak ada maling yang mengaku maling! Kopet!”, sambung yang lain.

Di depan, hakim nampak risau. Persidangan yang sudah berjalan hampir dua jam itu, telah memeras tenaga dan pikirannya. Di usia senja, ia merasa tak betah lagi berlama-lama duduk di kursi yang telah ditempatinya hampir seperempatabad itu. Ia berkali-kali bergerak menggeser letak — mirip orang yang ditimpa keresahan parah — sekadar berusaha menghilangkan penat dan jenuh. Selintas, terbayang pesan isterinya agar ia menjaga kebugaran, supaya encok menjauh dan penyakit jantungnya tidak terulang kumat.

“Saudara terdakwa! Saya minta saudara tidak berbelit-belit” Ujar hakim setelah membenahi letak kacamata bacanya yang melorot.
“Yang mulia…” Terdakwa menanggapi dengan sikap yang terkesan cemas. “Sejak awal, saya tak menolak bila dihukum. Tapi bagaimana dengan mereka? Orang-orang itu merampok saya lebih dulu! Mereka memberi patok pada lahan yang jelas-jelas milik saya, merebutnya dengan semena-mena dan mengancam saya bila melawan. Saya marah, kemudian mendobrak rumah mereka untuk mengancam balik, tanpa mengambil apa-apa. Tidakkah keterangan saya ini terang-benderang?” Seketika terdakwa bangkit, membalik badan, lantas mengarahkan telunjuknya pada dua orang perlente yang berdiri di tengah pengunjung sidang. “Kapan mereka diseret ke tempat saya berdiri saat ini?”

Gemuruh cibiran kembali terdengar. Dengungannya persis bunyi rombongan lebah yang kesal akibat sarangnya diusik. Palu sidang dipukulkan lagi. Kali ini lebih keras, hingga membuat beberapa pengunjung tersentak.
“Duduk!” Hardik hakim kepada terdakwa yang kontan menurut. “Saat ini kasus saudara yang sedang disidangkan, bukan perkara orang lain. Saudara hanya ingin memancing kegaduhan!”
“Saya cuma mengemukakan jawaban atas pertanyaan Yang Mulia tadi”
“Tak ada saksi yang mendukung pengakuan saudara”
“Harap Yang Mulia renungkan, siapa yang berani menjadi saksi jika nasib mereka terancam seperti halnya saya? Kalau para perampas itu bisa leluasa menyulap surat-surat tanah demi merampok hak milik kami, bukan hal sulit bagi mereka untuk menekan kami sedemikian rupa”
“Jangan menyebarkan teori-teori konspirasi hanya karena saudara sedang terdesak”
“Saya sudah mengira ini sebelumnya. Narasi-narasi yang bertentangan dengan maksud penguasa bakal dianggap teori konspirasi”

Hakim menghela napas dalam-dalam, “Karena cerita saudara tadi, tidak ada di berkas yang saya dapat”.
“Entahlah Yang Mulia. Saya tidak tahu kenapa bisa begitu. Padahal semua sudah saya ungkapkan. Barangkali, sepanjang keadilan hanya didasarkan pada catatan-catatan kertas yang tidak mustahil untuk direkaulang, selama itu pula orang-orang seperti saya akan terpojok dan dianggap pembual”.

Agaknya, keletihan sudah tak mampu ditahan Hakim. Pandangannya mulai kabur, tubuh terasa lemas, pikirannya bimbang. Ia terjebak dalam gemuruh batin yang silang sengkarut. Keputusan apa yang sebaiknya diambil? Sekilas, diliriknya dua lelaki perlente yang ternyata tengah menatap dirinya. Sungguh melelahkan! Ingin rasanya ia kembali menggenggam palu, lalu memukulkannya ke meja, seraya meneriakkan,”Persidangan ditunda!”.

Kesenangan

Dua karung semen yang bertumpuk di gendongan Gempal, dilemparkan begitu saja ke lantai hingga menghasilkan suara dentuman. Debu mengepul memedihkan mata. Gempal menyingkir beberapa depa supaya mendapat udara yang lebih bersih. Lalu, ia terlihat menekuk tubuhnya ke belakang, berusaha menghilangkan rasa nyeri yang menggerayangi pinggang. Setelah menyambar jeriken kecil dari sela-sela tumpukan besi calon tulang bangunan, Gempal duduk sembari menenggak air putih dari dalamnya, sekadar melenyapkan dahaga yang sedemikian menyiksa di hari yang terik itu.
“Sekali-kali, kamu harus ikut” Ujar Jangkung yang berdiri tak jauh dari tempat duduk Gempal. Jari-jari legamnya sibuk melukar jalinan benang yang terjahit di bagian atas karung semen. “Kamu perlu bersantai. Di sana tempat yang tepat”.
“Aku ndak tertarik. Bagiku itu hal yang sia-sia. Kalau mencari kesenangan mbok ya yang jelas-jelas saja” Jawab Gempal sambil melepas baju, membiarkan angin meredakan kegerahan yang meliputi badannya.
“Cobalah dulu. Seteguk dua teguk tuak bisa menghilangkan seluruh kelelahanmu. Hidup jadi enteng!”
“Dan membuatku tertawa-tawa kayak wong edan? Ah, Lupakan!”
Jangkung ngakak sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Ayolah, lupakan dulu seluruh masalah rumah tanggamu yang menyebalkan itu. Selepas kerja kita berangkat ke kedai itu. Senang-senang kita. Gimana?”
Sejenak Gempal terdiam. Hanya tangannya yang sibuk mengibas-ngibaskan baju untuk mengusir hawa panas yang terasa kian menyengat saja.
“Entahlah. Aku cuma ndak paham, kesenangan macam apa yang didapat dengan cara mabuk? Bagaimana bisa dikatakan senang, sedang kita saja tidak sadar saat menjalaninya? Bahkan itu semua akan sulit dijadikan sebagai ingatan yang indah. Lantas untuk apa? Kesenangan tahayul?”
“Ah, kau menanggapinya terlalu serius! Hidup ini cuma permainan belaka, Pal!”
“Mungkin begitu. Tapi permainan ini harus dimainkan dengan cara yang tidak main-main. Soalnya, masalah-masalah yang menimpa juga tidak kalah serius” Timpal Gempal seraya hengkang meninggalkan Jangkung yang masih belum berhasil membuka karung semen.

Penjara

Tiba-tiba, tubuhnya tergeragap dibarengi erangan panik dan suara gemeretak akibat goyangan ranjang. Napasnya tersengal, jantung berdegub tak karuan. Keringat dingin yang merembes dari kulit wajah, telah benar-benar membasahi separuh kepalanya. Takut dan resah berkelebatan di benak. Jangkung berusaha menenangkan diri dengan duduk di tepi pembaringan. Sinar bulan yang menerebos dari celah bagian atas dinding, masih belum cukup terang untuk membantunya melihat sekeliling. Gelap dan senyap meraja. Entah sudah pukul berapa. Tentu saja tak ada jam dinding di kamar berjeruji yang pengap dan berlumut itu. Jangkung terus menepis sisa-sisa mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Ini kali ketiga ia terjaga mendadak di tengah malam, setelah tiga hari mendekam dalam bui.

“Ndak perlu risau. Yang kamu alami itu hal biasa” Sejurus bisikan datang dari arah berlawanan. Jangkung terkejut. Rupanya, Gempal, kawan satu selnya juga terbangun. “Anggap saja sebagai ujian pertama sebelum akrab dengan dinginnya lantai penjara” Lanjutnya.
“Begitukah?” Balas Jangkung dengan suara tak kalah lirih. Sorot matanya menajam, mencoba menangkap raut wajah Gempal yang masih berbaring. Tapi upaya itu gagal. Kepekatan ruangan tak bisa ditembus penglihatannya.
“Aku dulu mengalaminya selama hampir dua minggu berturut-turut”
“Gila! Bisa tahan?”
Gempal menyeringai, “Mau ndak mau, kan? Memangnya kita punya pilihan untuk bisa tidur nyenyak seperti di rumah?”

Jangkung menghela napas seraya kembali merebah. Lalu, rasa linu menjalari punggungnya. Kasur tipis berbau apak yang menjadi alas tidurnya, seakan-akan tak mampu lagi bertahan sebagai pembatas antara tubuhnya dengan palang-palang besi penyangga ranjang. Mengesalkan! Jangkung ingin memaki dan menjeritkan kenahasan nasibnya, tapi jika itu ia lakukan, keadaan pasti akan lebih buruk.

“Di sini, hal yang paling mengancam adalah rasa kesepian” Suara Gempal kembali terdengar. “Itu rasa yang sangat berbahaya. Mimpi buruk hanyalah salah satu imbasnya saja. Selebihnya masih banyak. Ketakutan, putus asa, keberingasan tanpa alasan dan semacamnya. Orang bahkan bisa nekad bunuh diri karena gagal menaklukkannya. Barangkali, itulah kenapa orang-orang di zaman dulu mencetuskan penjara sebagai alat penghukum. Tubuh kita memang tidak disiksa secara langsung. Hanya dikurung! Tapi jiwa kita dibunuh pelan-pelan oleh kesepian kita sendiri”

Diam-diam, Jangkung setuju dengan pernyataan Gempal. Hanya saja ia heran, siapa sebenarnya orang itu? Kalimat-kalimat tadi tidak mungkin keluar dari mulut bromocorah kelas jalanan. Gempal pasti bukan orang sembarangan. Meski penasaran, Jangkung menahan diri untuk tidak bertanya. Sebab yang ia perlukan saat ini adalah tidur nyenyak tanpa dihantui mimpi buruk lagi. Ah, dia rindu rumah dan kamar hangatnya.

Surat

Penggal pamungkas surat dari kekasihnya yang meninggal beberapa hari lalu di negeri seberang, membuat mata si gadis kian sembab.

“Sungguh nikmat menanggapi penderitaan orang lain dari jarak yang jauh. Mengulas topik kesengsaraan liyan di meja makan, sambil mengerkah daging empuk dan meneguk minuman menyegarkan. Betapa enak memberi nasehat-nasehat luhur mengenai bencana yang terjadi di luar sana, sembari berlindung dibalik selimut hangat beralaskan kasur kering yang wangi. Tidakkah ini miris, kekasihku? Orang hanya akan bijak bersuara, selama masalah-masalah yang dikomentari itu tidak menimpanya”

Napas gadis itu mendadak sesak. Padahal, masih tersisa beberapa larik kalimat yang belum dibaca. Ia ambruk ke lantai sembari meraung-raungkan nama kekasihnya. Pilu dan sesal campur baur. Batinnya perih, digempur rasa bersalah bertubi-tubi. Genggaman tangannya menguat, meremas surat. Percik-percik keringat dan air mata membasahi kertas, melumerkan tinta hitam pada huruf-huruf tulisan tangan kekasihnya.