Bermain-main Dengan Bayang-bayang

Sebagaimana termuat dalam kenduricinta.com

Saya selalu menganggapnya sebagai kesempatan yang mak benduduk. Mengejutkan sekaligus menghenyakkan. Semacam ketiban pulung. Meskipun bobot makna istilah Jawa itu terkesan berlebihan untuk peristiwa yang saya hadapi. Tapi, mau diungkapkan dengan kalimat apa lagi? Sedangkan Bahasa Indonesia sendiri, terasa gagap untuk memadahkan suasana perasaan yang rumit.

Pangkal tahun 2013, seorang pegiat meminta saya untuk mendesain poster-poster Kenduri Cinta. Sekian lama berkutat di ranah rancang grafis, baru kali itu saya mendapat tawaran yang nggegirisi. Sesuatu yang bikin ciut nyali. Pasalnya, Kenduri Cinta adalah perhelatan istimewa yang mengusung gagasan-gagasan besar. Forum ini sering andil dalam perubahan-perubahan penting yang terjadi di Indonesia, meski sejarah formal tak mau mengakuinya. Wahana yang jangkep, berisi kajian intelektual hingga spiritual. Bukan perkara mudah untuk menerjemahkan tema-temanya ke dalam paparan visual.

Continue reading

Guyub

(Sebagaimana yang termuat di kenduricinta.com)

Sejumlah besar kampung di serata tlatah nusantara, tetap melazimkan adat berkumpul untuk merembug persoalan-persoalan sosial yang menyasar mereka. Penduduknya masih rela sepikul-sejinjingan dalam membantu hajatan tetangga, memperbaiki sarana umum yang rusak di kawasan pemukiman, mengerahkan sokongan dana untuk anggota masyarakat yang dililit kesulitan akut, hingga bahu-membahu secara cuma-cuma dalam mengurusi pemakaman warga yang meninggal. Mereka setia melakukan itu. Mandiri, atas nama hubungan kemanusian. Kegiatan-kegiatan seperti gugur gunung, kerig, sinoman, bersih desa dan semacamnya, masih dirutinkan tanpa harus didorong oleh anjuran-anjuran pemerintah atau paksaan undang-undang. Bahkan, seumpama negara sama sekali tak hadir di keseharian mereka sekalipun, hal-hal serupa itu agaknya bakal terus dijalankan.

Gotong-royong bukan mitos. Namun benar-benar masih berlaku, terutama di daerah-daerah yang jauh dari pusat-pusat kekuasaan negara. Watak itu telah menjadi nadi kehidupan sejak berabad-abad silam. Rentang usianya, barangkali setara dengan umur kebudayaan masyarakat itu sendiri. Sejak sebutan puak atau wanua jamak dipakai untuk menamai komunitas-komunitas ramping terorganisasi yang menghuni suatu wilayah politik. Sekali-kali, kunjungilah desa-desa di pedalaman Indonesia yang lekat dengan penerapan nilai-nilai tradisi leluhur, untuk menyaksikan itu semua. Ini kenyataan melegakan, di saat bangsa ini tengah repot dengan ancaman keterceraiberaian.

Orang Jawa menyebut gagasan kebersamaan harmonis tersebut sebagai guyub. Artinya, berhimpun dalam kerukunan. Istilah yang juga telah diserap dalam Bahasa Indonesia, dengan makna senapas. Dari sebenih falsafah, guyub kemudian tumbuh mempengaruhi pola pikir orang dalam memerankan fungsinya sebagai makhluk sosial.

Continue reading

PadhangmBulan, Sumur Kesadaran

Untuk 23 tahun Padhangmbulan
(Sebagaimana yang termuat di caknun.com)

Hawa dingin yang menusuk tidak membuat jamaah Kenduri Cinta beranjak meninggalkan acara. Entah jenis kesetiaan macam apa yang mereka miliki hingga masih rela berkumpul di Taman Ismail Marzuki, meski waktu sudah menggelinding ke dinihari. Jumlahnya mungkin ribuan. Sebagian besar duduk memenuhi pelataran, selebihnya berpencar ke sudut-sudut kawasan dan merimbun di sekitar gerbang yang berbatasan dengan jalan Cikini Raya. Perhatian mereka tertuju pada arah yang sama: panggung pendek tempat Cak Nun, Syeikh Nursamad Kamba dan Sabrang menyampaikan ulasan terkait tema khusus bulan itu, “Gerbang Wabal”. KiaiKanjeng yang berkesempatan hadir, menyelingi dengan lantunan irama-irama hangat, memantik senyum dari wajah-wajah yang bersikeras melawan kantuk. Beberapa jam sebelumnya, hadirin telah hanyut dalam kekhusyukan wirid tahlukah. Rangkaian permohonan kepada Allah tersebut dihaturkan secara serempak, agar diselamatkan dari kezaliman-kezaliman yang tengah menggerogoti negeri.

Continue reading

Cupet

Mark David Chapman mengambil buku “The Catcher of The Rye” dari saku belakang celana, usai meluncurkan sejumlah peluru dari pistol Charter Arms kalibar 38 di genggamannya. Ia kembali membaca novel karya  J.D. Salinger yang selalu dibawanya itu, sembari sesekali melirik tubuh John Lennon yang ambruk bersimbah darah di latar apartemen Dakota. Gelagatnya tetap kalem. Masih bersikukuh bahwa pembunuhan itu benar adanya. Bahkan saat polisi New York mencokoknya, ia belum bergeser jauh dari tempat semula.

Hari-hari berikutnya, di antara kesedihan dan kemarahan yang meruyak seiring terbunuhnya sang legenda dari The Beatles, orang-orang ramai bergunjing tentang gerak-gerik Chapman tersebut. Mereka menjulukinya psikopat yang terpengaruh bacaan. “The Catcher of The Rye” dituduh sebagai pemantik tindak pembunuhan. Novel itu melejit, namun pemberangusan juga kontan diberlakukan. Bredel! Para guru di sekolah-sekolah Amerika dan beberapa negara sepaham, melarang pelajarnya membaca buku itu.

Bukan sekali itu saja teks dituduh memantik kebrutalan. Seonggok buku dianggap mampu menyuntikkan ilham-ilham pembenaran atas kejahatan yang dilancarkan manusia. Namun, apakah bukan sebaliknya, manusialah yang rentan terkecoh? Keputusasaan dan kompleksitas masalah pribadi maupun sosial, kerapkali mendasari seseorang untuk terburu-buru menafsir teks. Hingga cepat menarik kesimpulan seraya meyakinkan diri bahwa pembacaannya itu sahih. Kepicikan tersebut kemudian menjadi salah satu landasan dari rimbunan faktor lain untuk melakukan aksi kekejaman. Padahal benda dan gagasan tidak bersalah. Keduanya tidak akan melukai, sampai seseorang mempergunakannya sebagai piranti penyerangan.

Barangkali, secara alamiah manusia adalah produsen kambing hitam. Selalu menolak disalahkan begitu saja. Terdorong untuk senantiasa melindungi diri dengan pembelaan-pembelaan supaya lepas dari keterdesakan. Terus mencari sasaran pengalihan untuk berkelit dari sangkaan yang tak dikehendaki. Itu diperbuat demi menghindar dari kehancuran. Egois. Sudah terjadi, bagaimana sebuah barang atau seperangkat gagasan dicerca habis-habisan karena dikira mengancam. Keris dimaki sebab dikhawatirkan memancing syirik. Dupa diumpat dengan alasan menggiring ke kesesatan, ideologi komunisme dipancung akibat dugaan melandasi pembantaian dan agama diserang seraya didakwa sebagai pemicu perseteruan. Bahkan sampai ada yang sempat bikin kutipan sinis “Bila agamamu mengajarkan kebencian, maka kau perlu agama baru”.

Mungkin si penulis memiliki trauma terhadap agama tertentu, setelah membaca kitab suci terjemahan. Tapi, tunggu dulu! Jangan-jangan, dia cupet menafsir. Mengunyah teks mentah-mentah tapi melupakan konteks. Bahkan tanpa merasa perlu untuk mengulik argumentasi sastrawi dari bahasa aslinya. Belum lagi kalau dibentur dengan pertanyaan, “Apakah dia memiliki kapasitas keilmuan memadai untuk menjadi seorang penafsir kitab suci?” Sadar atau tidak, dia sudah tergesa-gesa menarik konklusi oksimoron, “Berantaslah sumber kebencian dengan diam-diam merintis kedengkian baru!”

Konon, belajarlah jadi manusia dulu, baru kemudian beragama dan berideologi. Supaya akal tidak mubazir diciptakan.

Stigma

Tulisan ini juga termuat di kenduricinta.com

Saat tiba di Malaka pada kisaran dekade kedua tahun 1500, Duarte Barbosa menyaksikan peristiwa mengejutkan. Seorang lelaki Jawa yang tinggal di bandar itu, menghambur ke jalanan dengan gelap mata. Ia menyerang dan membunuh siapapun yang ditemui. Orang-orang di sekitarnya kalang-kabut tak karuan. “Amuk…Amuk!”, pekik khalayak yang panik sembari bergegas menghindar agar tak menjadi sasaran kekalapan. Kericuhan berangsur redam, ketika sejumlah orang menghentikan kebrutalan si lelaki, dengan menghunjamkan tombak ke tubuhnya. Barbosa lantas menyebut kejadian yang disaksikannya itu dalam ejaan bahasa Portugis, “Amuco”.

Sesungguhnya Barbosa tidak tahu pasti mengenai motif pelaku kerusuhan itu. Informasi yang ia dapat hanya menjelaskan, bahwa keberingasan tersebut merupakan bagian dari kebaktian kepada dewa. Henry Edward John Stanley, yang menerjemahkan catatan perjalanan Duarte Barbosa ke dalam bahasa Inggris dengan judul “A description of the Coasts of East Africa and Malabar in the beginning of the sixteenth century by Duarte Barbosa“, bahkan menghubungkan kejadian itu dengan ritual penyembahan terhadap Syiwa atau Bhowani. Borbosa lalu menarik kesimpulan, “Amuk” atau “Amuco” merupakan tindakan lazim penduduk Malaka yang mengisyaratkan keterbelakangan mentalitas mereka. Bangsa yang berbahaya!

Kesaksian Barbosa tadi lantas mempengaruhi pandangan petualang-petualang Eropa lainnya. Berangkat dari secuil potret, prasangka sinis lalu berkembang menjadi konsepsi tetap. Lebih jauh, Bahasa Inggris malah secara resmi menyerap “Amuk” ke dalam almari kosakatanya di tahun 1670, sekaligus menjadikan kata itu sebagai monumen kebenaran tentang bagaimana menyifati bangsa Melayu. Keterangan etimologis yang menyertai pengartiannya bernuansa miris: “amok (adv.) in verbal phrase run amok, from Malay amuk, attacking furiously. Earlier the word was used as a noun or adjective meaning a frenzied Malay, originally in the Portuguese form amouco or amuco“.

Penjabaran itu secara khusus meletakkan bangsa Melayu sebagai satu-satunya pelaku “Amuk”, sebagaimana yang digambarkan Barbosa. Generalisasi diterapkan dengan serampangan, nyaris tanpa mempertimbangkan kompleksitas konteks. Oleh penguasa-penguasa Eropa, sekelumit pengetahuan itu kemudian dijadikan salah satu bekal untuk mensyahkan derap kolonialisme dalam panji-panji misi hiprokit bernama pemberadaban, sambil menguras sumber daya ekonomi tanah jajahan. Sekali dayung, dua tiga pulau terkuasai!

Duarte Barbosa barangkali tak menyangka, istilah “Amuk” yang diartikannya tumbuh menjadi asumsi stereotip bagi bangsa-bangsa barat dalam menilai timur, khususnya penghuni kawasan nusantara. Cap buruk itu bertahan hingga berabad-abad sampai menggerogoti kepercayaan diri masyarakat yang disasar. Menjangkitkan wabah inferioritas. Melandasi sekian penindasan dan perampokan atas nama pemberadaban. Menciptakan kelas-kelas sosial baru, memisahkan golongan pendatang sebagai pembawa keluhuran yang layak mendapat penghormatan dan kalangan jelata yang lumrah bila diperlakukan layaknya hewan. Menjulangkan jargon-jargon pongah, bahwa pencerahan selalu datang dari barat! Masyarakat terjajah diletakkan sebagai obyek penderita yang harus banyak-banyak belajar dari penjajahnya.

Gerakan penalukkan memang tak melulu dimulai dengan serbuan pasukan tempur. Kerapkali hanya diawali melalui redefinisi kata tertentu, yang bisa mengubah gambaran keadaan suatu kelompok beserta nilai-nilai yang melingkupinya ke dalam aroma negatif. Memproduksi stigma-stigma yang mengeroposkan citra lawan hingga makin mudah dihancurkan. Sebab perombakan makna kata, mampu menjungkirbalikkan anggapan terhadap sesuatu, meski telah diyakini sekian lama. Bahkan rekayasa itu sanggup mewajarkan perbuatan tercela menjadi seakan-akan mulia.

Mulut

Keruntuhan tembok Berlin, berawal dari sejulur lidah yang kikuk. Tanggal 9 November 1989 merupakan mimpi buruk bagi Günter Schabowski. Politisi yang baru dilantik sebagai juru bicara partai komunis Jerman Timur itu canggung saat memberi pernyataan pada sebuah konferensi pers. Sedianya, sore di musim gugur itu, ia hendak mengumumkan kebijakan baru yang memperbolehkan warganya bepergian ke luar negeri asal mengurus paspor dan visa. Penguasa ingin memberikan angin segar, setelah lebih dari 28 tahun mereka melarang rakyatnya melintasi batas negara. Tak terkecuali dengan kunjungan ke negeri serumpun: Jerman Barat. Beberapa minggu sebelumnya, keadaan beranjak memanas. Serangkaian demonstrasi dilancarkan oleh para aktivis, menanggapi tindakan-tindakan pemerintah yang kian represif terhadap rakyat. Dengan mengeluarkan regulasi yang seakan-akan pro rakyat tersebut, pemerintah berharap mendulang simpati sekaligus meredam suasana.

Namun pertemuan yang riuh dengan jejalan wartawan itu, membuat konsentrasi Schabowski buyar. Pernyataannya kacau dan terlontar tak lengkap. Dia lupa menyebut syarat kepemilikan paspor serta visa yang mendasari aturan perjalanan itu. “Mulai sekarang, setiap warga Jerman Timur boleh berkunjung kemanapun mereka mau, termasuk ke Jerman Barat” Ucapan Schabowski disambut dengung kegaduhan. Orang-orang yang berkumpul disana tersentak. Sungguh pernyataan mengejutkan. Kenapa tiba-tiba pemerintah baik hati dan memberi kebebasan tanpa syarat? Ada apa ini? Tanya mereka dalam batin. “Kapan mulai berlaku?” Seorang jurnalis kontan mendesak. “Segera!” sahut Schabowski terburu-buru.

Menit-menit berikutnya adalah gelindingan bola revolusi yang membesar. Televisi nasional yang menyiarkan langsung maklumat tersebut, memancing keberanian rakyat untuk bergerak. Mereka keluar rumah dan tumpah ruah di jalanan mendekat ke tembok Berlin. Persis jebolan air bah yang telah dibendung sekian lama. Simbol supremasi perang dingin selama lima dekade itu perlahan-lahan rontok oleh pukulan palu, terjangan batu dan empasan bandul-bandul baja dari alat-alat berat yang dikerahkan. Orang-orang dari kawasan timur berhasil menyeberang ke barat tanpa harus takut dihardik penjaga seperti masa-masa sebelumnya. Tentara-tentara yang biasanya bersiaga di sekitar tembok, memilih pergi dan membiarkan. Menara-menara pengawas yang tempo hari digunakan sebagai tempat menembak mereka yang nekad kabur melintasi dinding, saat itu teronggok sepi.  Sekat ideologis antara barat dan timur akhirnya berangsur amblas. Hingga akhir tahun 1991, tirai beton itu benar-benar resmi terpugar seiring reunifikasi Jerman.

Schabowski sama sekali tak menyangka, kekeluan mulutnya berdampak sedemikian mencengangkan. Kekeliruan ucap mampu memantik perubahan sosial yang dahsyat. Ia telah merasakan langsung, makna dari peribahasa Melayu, “Mulutmu harimaumu, mengerkah kepalamu!”

Konon kerisauan soal mulut, juga pernah merebak saat Suharto membacakan naskah pengunduran dirinya pada Mei 1998. Di tengah suasana emosional yang mengiringi kejatuhannya, penguasa yang masih memiliki pengaruh kuat di kalangan militer itu, dikhawatirkan salah omong atau berubah pikiran. Satu ucapan ke arah tentara, sama artinya dengan instruksi. Bila isinya kemarahan atau penolakan atas pelengseran, keadaan bisa semakin runyam. Potensi perang saudara yang buas  tambah menganga. Beruntung, hal itu tidak terjadi.

Peristiwa bersejarah kadangkala dirintis dari riak yang remeh dan tak terduga. Seperti kegugupan Schabowski yang berujung pada tumbangnya sebuah tirani. Lisan politisi layaknya bumerang. Apabila tak mampu mengendalikan, bakal berbalik menyerang diri sendiri atau menghantam sistem yang dibelanya. Senjata makan tuan! Itu kenapa, ada wejangan yang bilang “Pekerjaan yang paling susah adalah diam. Namun lebih sulit lagi bicara dengan penuh kehati-hatian dan kebenaran” Mulut bisa menjadi penyelamat sekaligus sumber bencana. Kata-kata yang terlontar darinya, tidak mungkin direnggut kembali. Jika lalai dan menciderai, maka sayatannya akan menggores tubir zaman, membekas sepanjang ingatan!

Banawa Maiyah, Sekar Kebangsaan (Bagian 3)

Maiyah Sebagai Bahtera Kebangsaan
Secara simulatif, konstelasi politik di indonesia pasca pemilu legislatif dan menjelang pemilihan presiden 2014 sudah bisa dibayangkan keruwetannya. Siapapun presiden yang terpilih, akan mewarisi kompleksitas persoalan dari pendahulunya. Situasi parlemenpun akan menghadapi perkara yang sama. Baik itu mengenai perilaku anggota-anggotanya maupun mutu pada hasil-hasil kerjanya. Rakyat akan tetap berlaku sebagai obyek penderita yang terabaikan kesejahteraanya. Situasi adu kuat dan saling sandera kepentingan antar golongan masih terus berlangsung, seperti tampak di panggung politik indonesia dewasa ini. Kondisi demikian akan terjadi, dengan catatan : semua pemegang kekuasaan tidak mau merevolusi dirinya sendiri.

Continue reading