Ilusi

Beranjaklah! Di luar sana, kehidupan sungguh berbeda. Kenalilah manusia-manusia, pahami persoalan sosial beserta kompleksitas dimensinya. Terjun ke dalamnya, bukan sekadar percaya pada desas-desus searah di media sosial internet, hasil olahan kode-kode alogaritma dan pelintiran para pengeruk laba yang culas! Lagipula, kau bukan robot atau mesin biner yang hanya mampu bertindak berdasar logika hitam-putih belaka. Bagaimana bisa yakin pada seliweran kabar, namun kau menampik kisah di sebalik layarnya? Bagaimana bisa yakin dengan sangkaanmu, padahal yang kau mengerti hanya secuil perkara? Meski kau berkilah, “Aku memiliki kelengkapan argumentasinya, aku punya catatan-catatannya”, tapi itu saja tidak cukup. Bongkahan data tak akan menjadi apa-apa tanpa sudut pandang yang solid serta jernih. Statistik akan tumpul dan tampil dungu jika tidak diolah dengan pikiran serta hati yang mencakrawala. Jangan sia-siakan perangkat-perangkat kemanusiaanmu.

Kecuali, kau sudah memutuskan untuk menikmati hidup dalam tahayul-tahayul dunia maya dan tak mau terganggu dengan keasyikan ilusimu.

Spanduk

Kecenderungan zaman boleh berubah. Tapi tulisan-tulisan di spanduk cetak digital berisi himbauan sejumlah pemerintah daerah, masih menggunakan struktur kalimat yang sama dengan kelaziman 30 tahun silam. Membosankan. Awalannya kerapkali berbunyi, “Dengan semangat …bla…bla…bla..” atau “Dalam rangka …bla…bla…bla…”. Bedanya, kini desainnya lebih berwarna. Dan satu lagi, ada foto kepala daerah yang acap tertempel di sana, dalam gaya yang itu-itu saja. Mereka percaya diri memajang tampang, meski tak terkait dengan konteks tulisan spanduk itu. Seakan-akan hanya ingin meneguhkan, “Akulah penguasa wilayah ini. Camkan itu!” Menakjubkan. Nampaknya, mereka benar-benar memanfaatkan media itu untuk menyebar foto diri sesering mungkin, menjangkau kawasan seluas mungkin. Luar biasa. Terpujilah penemu teknologi cetak digital!

Perbedaan

Perbedaan itu tidak indah. Bahkan menyebalkan! Setidaknya, itu pendapat faktual kawan saya semasa kuliah belasan tahun silam, ketika dia diserang patah hati kronis, usai diputus kekasihnya dengan alasan, “Kita berbeda, Mas!”.

Hingga saat kami berkomunikasi kembali beberapa minggu lalu, dia masih teguh dengan pendapat tersebut. Malahan diimbuhinya, “Perbedaan itu nyebahi. Yang hebat-hebat hanya tafsirnya saja. Lantas dilebih-lebihkan lewat kutipan-kutipan di internet”. Saya tak menukas sepatah kata pun. Lagipula, tak elok membantah lelaki pengidap patah hati menahun yang mengakibatkan kejombloan hingga usia 40 tahun. Bisa berabe!

Namun, pendapat kawan saya itu ada benarnya. Tentu, aroma sinisnya perlu dikurangi agar simpatik. Misal, jika diubah menjadi: “Perbedaan itu biasa saja. Yang indah justru usaha manusia untuk memahaminya”. Lumayan, kan? Layak dijadikan pesan berantai di media sosial.

Kalau kawan saya tahu kalimatnya dibenahi seperti itu, dia pasti akan misuh, “Indah ndyasmu! Cuk! Gathel! Dobol!”

Sungkem

S​ungkem adalah tradisi menakjubkan. Saat melakukannya, kita menekuk diri, membekuk keakuan. Ritus kultural sederhana namun mengandung kecamuk yang rumit. Tentang upaya menjinakkan segala hasrat untuk mengungguli liyan, jadi pawang atas diri sendiri. Di dalamnya terselip makna, bahwa kemenangan bukanlah sesuatu yang serba megah dan menjulang. Melainkan kerelaan untuk meluruh ke bawah, merapat ke tanah, mengendus asal muasal.

Raya

Sebab yang sebenar-benarnya nyata adalah masa lalu. Sedangkan masa depan, hanyalah bentang misterius yang cuma bisa diraba dengan harapan serta doa-doa. Padahal, kesalahan dan hasrat ingin menyakiti yang telanjur terlontar, berada pada masa lalu itu! Syukurlah, kita disediakan waktu untuk meneliti segala cacat seraya meluruskan seluruh niat. Sedetik, semenit atau dalam satuan terkecil apapun. Meski sekelebat, itulah kesempatan untuk mengais ampunan demi masa depan yang akan kita sibak lewat perjuangan.

Selamat hari raya.

Rentan

Tanpa diminta apalagi dipaksa, orang-orang  mengobral kekonyolannya sendiri. Menebar aibnya sendiri. Cukup sediakan aplikasi internet berbasis media sosial dan seperangkat kesepian yang misterius, mereka bakal sukarela menelanjangi dirinya. Atas nama kebebasan berpendapat, hak berekspresi maupun curahan hati. Lihat, bukankah manusia itu rentan?

Tak perlu intimidasi belati untuk membuat mereka mempertontonkan kelemahannya.

Sekolah

Semula disebut murid, dari bahasa Arab, yang arti bebasnya adalah “pengupaya yang tekun, penggali potensi diri”. Seiring itu digunakan pula siswa, berasal dari zisya, bahasa Sanskrit, yang makna luwesnya, “orang yang diajari atau diberi petunjuk”. Kedua penamaan itu terasa anggun dan bermartabat. Namun kini berganti menjadi “peserta didik”. Tidak ada lagi kedalaman makna, berjarak, kering dan kental nuansa komersial. Barangkali, sekolah sudah mirip pabrik dan anak-anak itu disiapkan layaknya barang jualan di pasar kerja. 

Tapi, jangan-jangan begitulah kelumrahan sistem pendidikan formal masa ini. Serba dagang. Pengelolanya tak sungkan lagi untuk pasang baliho dan spanduk penerimaan “peserta didik” baru, dengan tatanan kalimat persis iklan perusahaan mencari karyawan. Mereka tak segan menawarkan fasilitas-fasilitas layanan dan akreditasi, bak iming-iming bonus pendapatan pada calon pekerja. Tak ada nilai kemanusiaan apapun yang dikemukakan disana, selain urusan laba dan niaga. Para orang tua dianggap sekadar konsumen, yang mesti dibujuk agar menitipkan putra-putrinya, untuk dipoles menjadi mesin tercanggih yang mampu memproduksi prestasi-prestasi versi mereka.