Tinju

Pemilihan umum seperti pertandingan tinju. Usai menyaksikan baku hantam, penonton yang lelah lantas pulang ke rumah masing-masing dengan membawa kesan beragam. Sebagian masih menyimpan geram, selebihnya menyandang girang. Entah itu dipendam diam-diam atau dilampiaskan terang-terangan. Hari-hari selanjutnya, mereka kembali pada kesibukan yang acapkali membosankan. Dan para petinju yang pernah mereka gadang-gadang itu, tenggelam dalam ambisi-ambisinya seraya sengaja melupakan hiruk-pikuk pertarungan tempo hari. Namun setidaknya orang-orang itu pernah mengupayakan sesuatu, meski diteriakkan dalam pekik yang memekakkan telinga dan perbantahan konyol membabibuta demi mengunggulkan jagoan yang diusungnya. Walaupun berkali-kali tertipu sekaligus dikhianati.

Global

Saat orang-orang masih ulet berdebat soal nasionalisme, Google sudah mengaduk-aduk isi lampiran email penggunanya, Facebook makin tekun memetakan arah pemikiran pemakainya, Twitter kian giat merekam perilaku warganya. Pasukan alogaritma cerdik itu telah merintis lingkungan baru yang melampaui batas-batas negara, sekaligus mengusung tata nilai dan gaya hidup baru berjuluk globalisme. Tidak menutup kemungkinan, mesin-mesin maya itu pula yang akan mengusangkan konsep nasionalisme sebagaimana yang dipahami orang sekarang, lantas menyingkirkannya sebagai kenangan: tentang jargon-jargon politik nan gagah yang dipekikkan pada arena perselisihan soal ras, suku serta agama.

Antre

Orang-orang yang gemar menyerobot antrean, selalu memakai alasan yang sama untuk membenarkan tindakannya. Mereka merasa paling kepepet sekaligus menganggap dirinya lebih penting ketimbang orang lain sehingga memaksa didahulukan. Tingkat kebrengsekannya telah parah. Sampai-sampai, sudah tidak cocok dimaki dengan pisuhan jenis apapun. Barangkali mereka baru bisa tertib jika yang menjaga antrean adalah Malaikat maut. Bahkan, besar kemungkinan, bakal sering mengalah. Sebab bagaimanapun, dalam soal kematian, kebanyakan orang cenderung tak mau terburu-buru.

Pungji

Tidak semua pungutan bersifat liar. Beberapa diantaranya bahkan amat jinak dan digembalakan dengan baik oleh sejumlah pegawai negeri. Mereka menyebutnya sebagai bantuan penyelesaian urusan secara cepat. Pungli itu hanya untuk para pegawai licik yang kerap menjebak warga agar mau merogoh kocek saat mengurus perkara-perkara terkait layanan negara yang sebenarnya cuma-cuma. Golongan ini perlu diberantas, dipepet ruang geraknya, lewat spanduk-spanduk gagah bertuliskan “Tolak Pungli”. Berbeda dengan upaya para penggembala pungutan jinak itu yang justru meringankan warga supaya tidak perlu repot menjalani prosedur pelayanan negara yang njlimet. Sedemikian tulusnya, hingga mereka tak ingin uluran tangannya diketahui orang banyak. Mereka melakukannya dengan diam-diam seraya sembunyi. Barangkali karena enggan disebut pamer kebaikan. Sambil sigap memasukkan “uang alakadarnya yang tidak boleh disebut sogokan” dari warga ke saku terdalam, dia berbisik, “Ini antara kita saja lho, ya! Saya hanya berniat menolong!”. Sungguh penggembala yang mulia.

Hijab

Jilbab dan kerudung itu hanya untuk dijual di lapak-lapak pasar pinggiran yang apak serta murah. Pemakainya pun kalangan yang tak begitu mempertimbangkan kelayakan tata busana terkini. Sedangkan Hijab, dipampang pada wahana pajang mal-mal atau butik-butik bergengsi serta wangi, dengan harga nan memukau. Kini, muncul lagi “Hijab syar’i” dengan definisi yang lebih mentereng ketimbang istilah-istilah sebelumnya. Ini soal jurus berdagang. Pembubuhan label pada barang, agar pembeli merasa memiliki identitas kelas saat memakainya. Tujuannya adalah laba dan penjaringan kesetiaan konsumen. Lalu sejumlah orang menanggapinya terlalu serius, seakan-akan itu semua adalah urusan keabsahan perangkat keagamaan.

Ramalan

Usai melukar kardus kiriman yang baru saya ambil dari kantor pos kecamatan, seorang tetangga yang kebetulan sedang main ke rumah saya, kontan menegur. “Jangan percaya tahayul! Apalagi ramalan! Zaman sudah maju seperti ini masih saja membaca primbon! Syirik, lho!” Tangannya sigap meraih isi paket di pangkuan saya, sebuah buku primbon berbahasa Jawa Kuno. “Oh ya, kamu aries, kan? Pantas senang dengan hal-hal yang serba mistis!” Dia lantas menggeser kursi menghadap saya seraya bersiap menerangkan. “Begini ya, berdasar teori horoskop yang saya pelajari, orang aries itu … ” Suaranya mengalir seperti bendungan jebol. Sayangnya, serempak itu pula rasa kantuk yang sedemikian berat, tiba-tiba menyerang saya.

Kejam

Seorang teman memutuskan untuk jadi vegetarian. Alasannya sederhana: dia tak tega melihat hewan dibunuh. Perutnya kontan mual dan perasaannya langsung sedih bila menjumpai bangkai. Dia mengungkapkan itu kepada saya, saat kami bertemu di sebuah toko waralaba. Demi menghindari dijuluki “tidak modern”, saya setujui saja seluruh pernyataannnya. Lagipula, tampaknya dia bersungguh-sungguh dengan keputusan tersebut. Bahasa tubuhnya terkesan tegas, airmukanya terasa meyakinkan. “Hewan-hewan itu disayang, bukan dibantai lantas dimakan! Manusia memang kejam!” ucapnya ketus, seraya berjalan menenteng semprotan pemberantas nyamuk, menuju meja kasir.