Napola

Selepas sekolah rendah, Friedrich Weimer hanya ingin menjadi petinju profesional. Pada sebuah sasana, ia berlatih menguatkan otot-otot lengannya agar lebih lihai melancarkan pukulan dan tangguh bertahan di arena laga. Gayanya gesit, dengan gerakan-gerakan trengginas. Namun Friedrich memiliki satu kelemahan yang kerap membuatnya bimbang saat hendak menuntaskan pertandingan. Dia gampang iba begitu melihat lawan terkulai di sudut ring dan tak tega untuk menghabisinya. Hal itu menjadi titik rawan. Sebab musuh bisa tiba-tiba bangkit, seraya menghunjamkan serangan mendadak hingga merobohkannya.

Heinrich Vogler, mantan atlit Jerman sekaligus guru di sekolah menengah, tertarik dengan kepiawaian Friedrich. Dia lantas mengajak pemuda itu masuk ke lembaga tempatnya mengajar, yaitu di Nationalpolitische Lehranstalt atawa Napola. Semasa Hitler berkuasa, institut pendidikan politik yang juga menempa bibit-bibit atlit tersebut dijadikan wahana penggodokan bagi calon-calon elit Nazi, sehingga sering pula disebut sebagai sekolah Führer. Metode pengajarannya dipenuhi disiplin kemiliteran. Keras dan cenderung brutal. Ayah Friedrich yang membenci Nazi dan sering mencaci penguasa, melarang anaknya belajar disana. “Kita tidak punya kesamaan dengan orang-orang itu! Mengerti?” Hardiknya suatu kali, untuk mencegah putra sulungnya itu jatuh ke dalam didikan kaum fasis.

Meski demikian, Friedrich tetap bersikeras. Suatu malam, saat seisi rumah terlelap, Friedrich kabur untuk menggapai cita-citanya di Napola. Sepucuk pesan untuk orangtuanya, ditinggalkan di meja makan. “Kepada ibu, jangan marah padaku. Aku percaya, ini adalah kesempatan sekali seumur hidup. Untuk ayah, aku lupa tanda tangan izinmu. Jika ayah menarikku keluar dari Napola, aku akan melaporkan kepada Gestapo, tentang semua hal buruk yang telah ayah katakan!”

Hari-hari selanjutnya, Friedrich aktif berlatih tinju sembari giat menyerap pengetahuan lain seperti sastra dan politik. Heinrich sendiri yang langsung membimbingnya. Teknik-teknik menyerang serta mengecoh dipelajari dalam sesi-sesi latihan yang kasar juga ganyar. Friedrich tengah dipersiapkan menjadi petarung nan ganas. “Jangan beri ampun pada lawanmu! Lantakkan!” Pekik Heinrich menyemangati. Pelatih itu berkali-kali menegaskan supaya Friedrich tidak ragu menghajar musuh hingga penghabisan. “Segala hal mengenai rasa kasihan adalah omong kosong. Hanya dengan demikian, kau bisa menggunakan seluruh potensimu!”

Beberapa pertandingan yang digelar berhasil dimenanginya. Tapi Friedrich masih sulit menanggalkan sifat manusiawinya, yang tak sampai hati bila menyaksikan orang lain menderita. Ketegaannya belum bisa total. Walaupun ia sempat mampu menghajar lawan tandingnya hingga berdarah-darah tapi rasa bersalah kerap datang menggelitik. Apalagi semenjak ia akrab dengan Albrecht Stein. Seorang remaja sensitif dan pendiam yang menjadi teman sekamarnya, anak petinggi regional Nazi. Albrecht adalah pemberontak yang dingin. Dia lebih memilih bunuh diri, ketimbang menuruti kemauan ayahnya yang memaksanya menjadi perwira di pasukan khusus yang disegani, Waffen-SS. Ia tak ingin turut serta dalam pembunuhan dan kekejaman lain, seperti halnya si ayah.

Tindakan Albrecht yang nekad dengan mengakhiri hidup demi mempertahankan keberpihakannya atas nilai-nilai kemanusian, menyentuh kesadaran Friedrich. Kematian Albrecht telah menampar ambisi-ambisinya hingga kikis sama sekali. Dia tak mau menjadi petinju yang sadis. Rasa kasihan terhadap penderitaan manusia lain yang selama ini ingin disingkirkan, dirangkulnya kembali. Lagipula, Friedrich memang telah gagal menghapus rasa itu. Ia tak mampu untuk sepenuhnya mengubah jatidiri. Ia tetap ingin menjadi manusia yang punya iba dan belas kasih, bukan makhluk raja tega seperti galibnya pejabat-pejabat Nazi. Friedrich menyetujui ucapan ayahnya di masa lalu, “Kita tidak punya kesamaan dengan orang-orang itu!”

Pada akhirnya, tekad lama harus dikoreksi, sikap baru mesti ditegaskan. Pada sebuah pertandingan antar sekolah, Friedrich menolak menghabisi lawan yang sudah terdesak. Akibatnya, dia harus menerima jotosan bertubi ketika musuh tiba-tiba menyerang balik. Friedrich tersungkur lunglai. Pihak sekolah yang kecewa dengan kekalahan Friedrich, lantas mengeluarkannya secara tak hormat. Namun Friedrich tak menyesali itu. Kekalahan tak selalu berarti kehinaan. Pada konteks tertentu, kekalahan itu perlu untuk melindungi diri dari kepongahan. Baginya, lebih baik putus sekolah daripada harus bertindak keji.

Kisah Friedrich yang malang dan mengharukan itu, tergambar dalam film “Before the Fall”, produksi Jerman tahun 2005, dengan judul asli “Napola – Elite für den Führer”. Film ini menarik, karena menampilkan kemelut pelajar di sekolah pecetak elit yang ambisius sewaktu Nazi berjaya. Sisi lain kehidupan politik Jerman di era yang menyeramkan. Menceritakan upaya Hitler dalam membesut bala tentara yang tangguh, namun kehilangan sifat manusiawi. Persis robot yang sengaja diproduksi sebagai mesin pembunuh. Para pemuda yang direkrut ke dalamnya, dipoles agar perkasa berperang di garis depan. Mereka diajar supaya bermental sekeras karang dan berani membinasakan liyan dengan sebisa mungkin mengesampingkan rasa berdosa. Menjadi lelaki ideal seperti yang dibayangkan sang Führer. Manusia tanpa cela yang memuja kegagahan-kegagahan seraya menampik kelembekan. Loyo adalah nista! Sebagian lainnya, diangkat sebagai pejabat demi mengukuhkan kekuasaan otoriter. Tidak semuanya tunduk. Seperti Friedrich yang memutuskan keluar dari sistem bengis itu dan menempuh jalan sebagai manusia seutuhnya: punya hati dan tak menafikan kelemahan kodrati.

Advertisements

Lalu, Dimana Tan Malaka?

Untuk menjawab sejumlah pertanyaan, mengenai ketidakhadiran Tan Malaka dalam Film Guru Bangsa Tjokroaminoto, saya lampirkan foto teks dari buku Dari Penjara Ke Penjara yang ditulis oleh Tan Malaka sendiri. Buku yang dipotret, merupakan cetakan terbaru – tahun 2014 – oleh penerbit Narasi, Yogyakarta. Di dalam buku tersebut ditulis, Tan Malaka baru tiba di Jawa pada Juni 1921, setelah bekerja di perkebunan tembakau di Deli, sejak Desember 1919.

Dengan demikian, periode saat Tan Malaka bergabung dengan SI Semarang pimpinan Semaoen dan kemudian bertemu Tjokroaminoto, adalah masa ketika durasi film ini sudah habis. Dan tidak mungkin memaksakannya, sebab bakal memunculkan anakronisme, melanggar fakta sejarah dan kerancuan penokohan. Karena rentang waktu sejarah yang dipungut dalam film ini, secara praktis berkisar dari tahun 1911-1921, meskipun peristiwa-peristiwa personal maupun lingkungan Tjokroaminoto, yang berlangsung sebelum tahun itu, juga dicantum sedikit pada awal film.

tan_malaka

Dimana Karto, Alimin dan Moeis?

Tak sedikit orang yang bertanya kepada saya, kenapa banyak nama penting tidak ditampilkan di layar film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Walaupun jauh-jauh hari saya sudah membuat catatan berisi argumentasi mengenai soal tersebut yang bisa dibaca disini (Memilih Wayang dari Kotaknya), lebih singkatnya saya tuliskan lagi sebagai berikut.

Periode praktis yang diangkat dalam film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah antara tahun 1911-1921. Meskipun masa kecil hingga Tjokro pindah dari Ponorogo ke Surabaya pun dicuplik pada sebagian kecil adegan awal film. Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo lahir di tahun 1905, itu artinya pada rentang tahun tersebut, dia masih berusia sekolah dasar dan menengah di Bojonegoro. Kartosoewirjo baru bergabung di rumah paneleh sekitar tahun 1923, saat dimana film ini sudah menghabiskan durasinya.

Hal yang perlu diingat juga, bahwa orang-orang tenar yang hidup satu rumah pada periode awal interaksi paneleh adalah Moesso, Soekarno, Hermen Kartowisastro dan Semaoen. Semaoen sendiri tidak kost di Paneleh, karena dia tinggal di Surabaya dan bekerja di Staatsspoor. Semaoen hanya sering bergaul dan berdiskusi di Paneleh. Lain lagi dengan Alimin. Dia baru masuk Paneleh untuk mondok selama beberapa bulan pada tahun 1918. Sedang masa tersebut berdekatan dengan bagian akhir film. Untuk menghindari kerancuan penokohan dan kompleksitas cerita, Alimin pun tidak dimasukkan.

Begitu pula dengan tokoh penting Abdoel Moeis yang tidak nampak dalam film. Menghadirkan Moeis, artinya juga membawa figur sejawatnya yang lain seperti Tirto Adhie Soerjo, Soewardi Soerjaningrat, Ernest Douwes Dekker dan Tjiptomangoenkoesoemo. Karena tokoh-tokoh itu berkaitan dan saling merekomendasikan, hingga akhirnya membawa Moeis bergabung dengan Sarekat Islam dan berhubungan dekat dengan Tjokroaminoto. Apabila Abdoel Moeis ditampilkan, maka mau tidak mau sebagian besar dari orang-orang yang disebutkan berkaitan tadi, mesti juga dihadirkan. Langkah itu akan membuahkan konsekuensi, pada makin kompleksnya penokohan yang mempengaruhi kerumitan konflik dalam film. Lalu, resiko yang tidak bisa dihindari adalah bertambahnya durasi tayang. Untuk itu, demi membungkus film ini agar lebih ramah tonton dengan konten yang mudah diikuti, maka nama Abdoel Moeis hanya disitir lewat dialog.

Jadi, dasar periodesasi dan teknis penceritaan serta manajemen penokohan inilah yang menjadi alasan hingga tidak memungkinkan tokoh-tokoh tadi ditampilkan semua.

Setelah Penayangan Perdana

Salah satu hal yang diharapkan muncul setelah adanya Film Guru Bangsa Tjokroaminoto adalah makin lenturnya anggapan penonton Indonesia tentang bagaimana memposisikan sebuah Film Cerita Sejarah. Perlu disadari sepenuhnya, bahwa Film Cerita Sejarah bukanlah sekadar hasil kerja memindahkan teks-teks sejarah ke layar lebar semata. Tapi lebih dari itu, sebuah Film Cerita Sejarah adalah upaya menganyam informasi sejarah dengan kisah fiksi sebagai penyerta, untuk menjadi serangkai drama dengan cara bertutur yang bisa dipahami khalayak. Fakta-fakta sejarah diandaikan serupa tulang-tulang pada tubuh makhluk hidup, kemudian dililit dan dihubungkan dengan jalinan fragmen fiksi yang berlaku layaknya daging. Sebab sifat dari kebanyakan fakta selalu nampak kaku, tajam dan keras, maka perlu sentuhan fiksi – dengan kadar wajar – untuk melembutkannya, agar lebih indah saat diceritakan.

Detil-detil dalam Film Cerita Sejarah, hanya bisa mungkin dihadirkan secara visual, lewat jalur penuturan fiksi. Sebab diktat-diktat sejarah pada umumnya, hanya mencatat hal-hal yang besar saja, sedang informasi rinci mengenai sebuah peristiwa atau gerak-gerik keseharian seseorang, kerapkali terlewat. Bumbu fiksi yang terdapat dalam Film Cerita Sejarah itupun tidak diambil dengan tafsir yang serampangan. Mesti ada landasan referensi yang diangkat sebagai acuan, supaya tidak liar. Biasanya, karya-karya sastra yang terbit pada zaman yang dimaksud, dijadikan rujukan pendamping, sebagai pembangun interpretasi dalam meraba gambaran, bagaimana kelumrahan hidup pada masa itu. Dengan syarat, jabaran fiksi dalam film tersebut, tidak boleh melanggar fakta sejarah dan logika umum yang berlaku di zaman terkait. Dari proses serupa itu pula, cerita film Guru Bangsa Tjokroaminoto dibangun.

Alangkah lebih patut apabila Film Cerita Sejarah diletakkan sebagai ikhtiar simulatif dari para kreatornya, untuk menafsir bagian-bagian dari sejarah yang memungkinkan untuk divisualkan dan dirangkai dalam satu bongkah kisah. Sebab tidak semua peristiwa sebagaimana yang tercantum dalam teks sejarah bisa di tampilkan di layar. Ada banyak pertimbangan. Antara lain, film cerita memiliki kaidah-kaidah struktural penuturan dan manajemen penokohan yang tidak memungkinkan untuk mengangkut semua peristiwa sejarah yang populer di pengetahuan publik itu. Paling tidak, anggapan-anggapan bahwa Film Cerita Sejarah merupakan wahana “copy-paste” seutuhnya dari buku-buku sejarah, perlu diistirahatkan dulu. Cara pandang seperti inilah yang diharapkan datang dari penonton, dalam merespon film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Lebih bijak dan kontekstual.

Selamat menikmati film Guru Bangsa Tjokroaminoto. Terima kasih sudah menjadi bagian yang bersemangat, untuk menonton film-film Indonesia.

Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 4)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Di Antara Wajah-Wajah Masa Silam

_

Semarang masih menjadi tempat yang asing untuk saya. Meski lahir di salah satu kabupaten yang seprovinsi, tidak serta merta membuat saya akrab dengannya. Barangkali, karena ingatan yang terekam di kepala tentang daerah itu juga sedikit. Saya tidak pernah tinggal lama di sana. Hanya melintas atau sekadar singgah sejenak. Setelah sembilan hari beraktifitas di kisaran Ungaran dan Ambarawa, Tim Film Tjokroaminoto berpindah ke Semarang. Terdapat tiga tempat yang akan dijadikan lokasi pengambilan gambar. Bagi saya, ini sekaligus jadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kota tersebut. Bersama Gundul dan Ipey, saya berangkat lebih awal. Sekitar pukul delapan malam, beberapa puluh menit sehabis perekaman gambar terakhir di wilayah Tuntang, kami melajukan kendaraan menuju ibukota Jawa Tengah itu. Sementara kru yang lain, bertolak keesokan harinya.

Keramaian belum pudar ketika kami memasuki kawasan Simpang lima. Hilir-mudik kesibukan, mewarnai suasana. Lalu lintas padat, sedangkan saat itu bukan malam minggu. Mulai dari gerbang kota, kerap terlihat lapak-lapak santapan penggugah selera. Aneka rupa hidangan dijajakan. Warung-warung tenda yang berbaris di bahu jalan itu, rata-rata disesaki pengunjung. Tak terkecuali dengan yang terdapat di seputaran Tugu Muda. Nampaknya, Semarang tengah meneguhkan diri sebagai daerah tujuan wisata kuliner.

Continue reading

Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 3)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Memilih Wayang dari Kotaknya

_

Pertanyaan yang acap terlontar berkait dengan ragam penokohan dalam Film Tjokroaminoto adalah : Apa yang membuat segelintir orang di masa itu sedemikian cendekia?

Pada beberapa kesempatan, teka-teki itu masuk dalam obrolan-obrolan ringan. Sembari menunggu persiapan pengadeganan dilokasi syuting atau sewaktu jeda istirahat tiba. Entah iseng atau serius. Cukup sering saya disasar oleh pertanyaan-pertanyaan sejenis. Saya sendiri tidak mengerti pasti, ungkapan apa yang cocok untuk menanggapinya. Mengukur kualitas intelektual sekelompok orang pada sebuah zaman bukanlah hal yang gampang. Apalagi bila parameter yang digunakan untuk menganalisanya datang dari zaman yang berbeda. Perlu lembaran khusus untuk menjawabnya secara panjang lebar. Sebab penjelasan atas itu tak cukup dengan membuka kembali referensi sejarah lokal dan dunia. Namun juga harus membabar ulang pemahaman tentang psikologi sosial, antropologi budaya, jejaring interaksi antar bangsa juga pemetaan sebaran informasi global yang mewarnai era itu.

Continue reading

Menjahit Perca Kisah Raja Jawa Tanpa Mahkota (Bagian 2)

Catatan dari balik layar Film Tjokroaminoto (2015)

_

Menggambar Kontras Zaman

_

Selembar kertas terselip di celah bawah pintu kamar. Malam baru saja beranjak. Di luar, desis angin menggoyang dahan-dahan kering pada pepohonan rindang di area hotel. Suaranya gemerisik. Sesekali terdengar gelak tawa dari pendopo, yang letaknya tak jauh dari kamar saya. Sejumlah orang sedang berkumpul. Mereka adalah para pemain pendukung film yang hari ini pulang lebih awal dari lokasi pengambilan gambar.

Barisan huruf berjajar rapi di permukaan kertas. Rangkaian jadwal syuting berikut rancangan bagian cerita yang hendak diambil esok hari tertera disitu. Seorang awak produksi telah mengantarkan carik pemberitahuan tersebut. Tapi karena kamar masih terkunci, sebab saya masih belum tiba, ia lantas menyusupkannya pada kisi-kisi pintu yang berdekatan dengan lantai.

Saya tertegun membaca ulasan calon adegan yang tercantum di helai daluang putih itu. Secara bertahap, cerita Tjokroaminoto sudah dikonversi menjadi gambar-gambar hidup. Simulasi kehidupannya berhasil diperagakan melalui seni peran. Teknologi sinema mutakhir begitu membantu terwujudnya hal itu dalam waktu relatif cepat. Kemampuan para pemainnya yang juga mumpuni, turut membuat proses perekaman tidak menuai halangan berarti.

Continue reading